Rekam Keriaan Japanese Breakfast Southeast Asian Tour 2019

0
25
japanese breakfast

“Buat saya, Indonesia adalah negara yang spesial karena dahulu saya banyak kenal dengan orang Indonesia saat bekerja sambilan di sebuah restoran. Saya menyesal dahulu tidak memasukkan indonesia ke dalam agenda tur asia tahun 2017. Namun, kesalahan itu untungnya tidak saya ulangi lagi sekarang,” ujar Michelle Zauner alias Japanese Breakfast.

Konon, Japanese Breakfast hanya proyek iseng Michelle sekitar tahun 2014 silam. Ia membuat proyek ini tatkala kembali ke Oregon untuk menemani sang ibu yang mengidap penyakit kanker.

Michelle bereksperimen dengan sound-sound lo-fi dan menghasilkan dua EP pendek berisi 15 lagu, yakni American Sound dan Where Is My Great Big Feeling yang beberapa lagunya masuk ke dalam album kelak.

Melawat Perhelatan Japanese Breakfast di Jakarta

japanese breakfast

Saya bukan penggemar kelas berat Japanese Breakfast. Namun album Psychopomp, Soft Sound from the Other Planet, dan beberapa single dia sempat ada di playlist. Keinginan menonton konsernya pun terbesit kuat sejak ia melakoni Tur Asia perdana di tahun 2017 dan  hanya mampir Thailand.

Saya masuk ke venue saat Jirapah baru akan memulai set nya. Jujur saja, ini menjadi pengalaman perdana saya menyaksikan mereka tanpa memahami materi yang dimainkan secara mendalam. Sebuah kesalahan yang sebaiknya tak boleh diulangi karena live mereka bagus sekali.

Membawakan sekitar 8 hingga 9 lagu selama setengah jam, Ken Jennie, Mar Gallo, Yudhistira Agato dan Nico Gozali sukses membuka konser Japanese Breakfast. Tata lampu yang simpel dan backdrop panggung memadai, menambah nilai estetika penampilan Jirapah.

Tepat pukul setengah sembilan malam, Jirapah usai dan kru Japanese Breakfast dengan cekatan segera mengatur peralatan di atas panggung. Setengah jam berlalu, tibalah penampil utama. Saya takjub dengan kesigapan para kru dan keberlangsungan acara yang tepat waktu.

“Kemarin sih di Singapura, Michelle (Japanese Breakfast) bawain 7 – 8 lagu doang. Itupun cuman 45 menit. Crowd-nya seru, harga tiket mahal banget sekitar Rp650 ribu kalo dikonversi ke rupiah. Untung, dapet jebolan,” ujar salah satu kawan yang beruntung bisa menonton tur Japanese Breakfast hingga 2x.

Set diawali dengan lagu “12 Steps”, Michelle Zauner yang malam itu memakai setelan blazer dan tanktop hijau neon hadir begitu energik. Saya juga kagum dengan perangkat sound system yang disediakan oleh trio Noisewhore, Studiorama dan Pesona Experience, meskipun agak sedikit pengang karena berdiri di dekat speaker dan lupa membawa earplug. Suara masing-masing intrumen terdengar jelas, tanpa saling tumpang tindih dan pecah.

Lagu “In Heaven”, “The Woman that Loves You”, “Machinist” dibawakan tanpa jeda. Peristiwa agak bikin deg-degan terjadi saat saya ditegur oleh pemain bas Japanese Breakfast, Deven Craige, sesaat sebelum lagu Machinist dimulai, akibat cahaya dari kamera.

Michelle dan Nasi Padang

japanese breakfast

Satu hal yang cukup menyenangkan adalah melihat bagian depan panggung yang banyak diisi teman-teman perempuan. Hal tersebut menandakan bahwa konser ini adalah konser yang baik karena bisa dinikmati oleh siapa saja dan tanpa terkecuali; “moshpit untuk semua”.

Tak sampai di situ, Michelle mengatakan bahwa Indonesia adalah destinasi yang ditunggu-tunggu karena tidak sabar untuk mencicipi Nasi Padang.

“I want to eat Nasi Padang everyday,” celotehnya di Twitter, saat sampai di Indonesia.

Kepiawaiannya mencicipi berbagai macam masakan dan makanan membuatnya didaulat untuk mengisi salah satu konten dalam kanal Youtube Munchies.

Selain membawakan lagu dari album lama, Michelle juga membawakan nomor-nomor terbarunya, unrelease single “In Hell” dan Single “Especially” yang diciptakan saat Michelle sedang di Bali dan bekerja sama dengan W Records milik W Hotel Bali pada awal tahun ini turut dia bawakan.

Ada pula cover lagu “Lovefool” dari The Cardigans yang tidak menyurutkan niat beberapa orang untuk menari tanpa malu, sambil menenggak bir dingin pada malam itu…

Meski hampir seluruh penonton tidak berhenti merekam konser dalam gawainya, sehingga cukup mengganggu yang lainnya di belakang.

Total Japanese Breakfast membawakan sekitar 15 lagu dalam set-nya dan malam itu. “Diving Woman” didaulat sebagai penutup, sehingga “ibadah indie” selama sejam pun tidak terasa lama.

Setelah, itu Japanese Breakfast langsung terbang ke Filipina untuk bergabung dengan Turnover, Las Dinosaurs, Jacob Ogawa dan Phum Viphurit di Summer Noise festival.

Oleh: Made Yana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here