Jackson C Frank dan Sesedih-sedihnya Musik Folk

0
129
jackson c. frank

Jackson C Frank mungkin tak lebih terkenal dari Bob Dylan, Nick Drake dan kaliber solois lain di muka bumi. Namun, jalan hidup terjal serta karyanya yang indah mampu menasbihkan dia sebagai entitas penting dalam musik folk.

Lahir pada 2 Maret 1943 di Amerika Serikat, Jackson hanya merilis satu album yang ditangani oleh Produser Paul Simon pada 1965. Selebihnya, apa yang direngkuh Frank hanya kisah tragis.

Jackson menuai pilu bahkan sejak duduk di bangku sekolah. Seiring waktu, dia harus berhadapan dengan masalah kejiwaan yang menghambat karier musiknya.

Meski hanya merilis satu album, keberadaan Jackson dianggap mampu mempengaruhi deretan nama besar seperti Paul Simon, Sandy Denny, Bert Jansch hingga Nick Drake.

Jurnalis Rolling Stone, David Fricke, menyebut Jackson sebagai salah satu penulis lagu hebat yang terlupakan pada 1960-an.

Sejarah merekam Frank sebagai perwujudan atas sesedih-sedihnya musik folk.

Dunia yang Kejam untuk Jackson C Frank

jackson c. frank

Jackson C Frank adalah anak semata wayang dari Marilyn Rochefort Jones dan Jack Jones. Bapaknya bekerja sebagai seorang pilot uji.

Kedua orang tuanya lantas bercerai. Marilyn menikah lagi dengan perwira militer dan ahli kimia bernama Elmer Frank.

Lebih dekat dengan ayah tiri, Jackson lantas memilih nama belakang Frank dan jadilah sosok yang kita kenal sekarang.

Lebih dari sekadar masalah keluarga, Jackson melalui masa-masa berat lain. Dia adalah satu dari beberapa penyintas kebakaran yang melahap gedung sekolahnya. Sementara Jackson selamat namun terluka parah, sebagian besar murid di sana tewas…

Termasuk sang kekasih, Marlene Du Pont.

Kelak, kisah tragis ini menjadi salah satu lagu Jackson berjudul “Marlene”. Begitu lirih, sampai membuat sesak hati pendengarnya.

Kebakaran itu terjadi di ruang musik saat sedang melakukan kelas praktik—kelas 6 SD. Jackson menggambarkannya lewat lirik berikut:

Her love was so clean, to tell the truth, Marlene

The sound of your tambourine still haunts me

…Tak ada yang ingin dihantui penyesalan lewat suara tamborin dalam pikiran.

Sisi baiknya, tragedi tersebut justru mengantar Jackson C Frank pada babak baru dalam kehidupan. Takdir mengeratkan dia dengan musik.

***

Usai menjalani perawatan di rumah sakit, guru sekolah Jackson membawa gitar sebagai upaya menjaga semangat yang sempat pudar.

Beruntung, Jackson menerima dengan senang hati dan masih mau mengalihkan trauma tersebut dengan hal positif

Petualangan Jackson bersama gitarnya dimulai. Ia begitu mengidolakan Elvis Presley, sehingga sang ibu bertekad mempertemukannya. Hal itu terwujud di Graceland saat Jackson berusia 13, tahun 1957.

Langkah besar diambil Jackson saat memasuki umur 21 tahun. Berbekal uang asuransi sebesar US$110,5 ribu, Jackson mencoba peruntungan untuk menjadi musisi folk dan terbang menuju Inggris.

Babak Baru Bernama Blues Run the Game

jackson c. frank

Jackson datang ke Inggris di tahun 1960-an awal—waktu yang tepat untuk berjaya di atas bendera musik folk. Dia tinggal bersama sang produser, Paul Simon untuk menggarap album yang kelak menjadi Blues Run the Game.

Orang-orang sekitar mengenalnya sebagai pria berpenampilan rapi, pendiam, enggan menonjolkan diri, tak terlalu sensitif, dan jauh dari tipikal rockstar yang banyak tingkah—berbeda dengan kalian semua, sobat skena.

Jackson paham bahwa kemampuannya spesial. Namun, dia juga sadar bahwa sifat tertutup bisa menyulitkan dirinya di masa depan

Materi-materi lagu Jackson dinilai bagus, melankolis, hangat, namun tegas. Dia menegaskan diri lewat album Blues Run the Game…

Bahwa ombak kesedihan dapat dibelah jika mampu mempersiapkan diri sebagai nakhoda yang tangguh.

Ya, sesederhana itu baginya dalam mengarungi samudera kehidupan.

Walau diterima dengan baik selama beberapa waktu, namun tahun 1966 berkata lain. Kesehatan mentalnya menurun dan dia mengalami kebuntuan dalam menulis lagu.

Uang hasil pencairan asuransi milik Jackson mulai menipis. Ia mesti pulang terlebih dahulu ke kampung halaman untuk sementara, lalu balik lagi ke Inggris dua tahun kemudian.

***

Kembalinya Jackson ke Inggris pada 1968, bukanlah sebuah pertanda baik karena depresi dari trauma masa kecil itu kian menggila. Al Stewart selaku kerabat dekat Jackson, bilang begini:

“Dia (Frank) jadi berantakan di hadapan kita. Gayanya yang disukai semua orang, perlahan memudar. Dia mulai melakukan hal-hal yang tak bisa diterima nalar.”

Bergeser ke cerita hidup yang lain, Jackson pernah menikahi Elaine Sedgwick, mantan model fesyen asal Inggris. Mereka memiliki dua anak dan tinggal di Woodstock.

Sang putri bernama Angeline lahir sehat, sementara yang laki meninggal dunia karena fibrosis kistik. Tak lama, keduanya berpisah.

Keadaan kian runyam dan Jackson masuk pada periode depresi tingkat lanjut. Kondisi tersebut membuatnya masuk rumah sakit jiwa.

Pengujung Masa Seorang Jackson C Frank

jackson c. frank

Sekian lama berjuang dengan karier dan kesehatan mental, hal tersebut nyatanya tak bisa  dipertahankan seorang Jackson C Frank. Dia hidup menggelandang tanpa tujuan.

Jackson sempat tinggal bersama orang tuanya di Elma, New York pada dekade 1980-an. Namun tak lama dari situ, dia memutuskan pergi dengan nanar kosong dalam rangka mencari Paul Simon.

Hal itu dilakukan demi satu tujuan, yakni membangkitkan hasrat serta karier musik yang pernah ada. Jackson ingin membuat karya lagi.

Ironis memang. Bukannya bertemu, Jackson malah hidup seperti pengemis di luar sana.

Dia tak punya tempat tinggal, tidur di trotoar dan makan makanan seadanya. Pada periode tersebut, intensitas Jackson bolak-balik rumah sakit jiwa makin tinggi.

Dokter mendiagnosa Jackson terkena skizofrenia paranoid, meski hal itu dibantah oleh yang bersangkutan. Jackson cuma percaya bahwa dirinya dilanda depresi akibat trauma masa kecil.

Keadaan semakin parah saat mata kiri Jackson buta akibat tembakan mainan sekumpulan anak-anak di New York. Penampilannya jadi tak karuan dengan badan tambun dan mata pecak.

Tak banyak yang mengetahui pengujung masa seorang Jackson C Frank, sampai akhirnya kabar duka itu muncul…

Jackson meninggal akibat pneumonia dan penyakit jantung di Barrington, Massachusetts, tanggal 3 Maret 1999 pada usia 56 —satu hari setelah berulang tahun.

***

Pada akhir hayatnya, orang-orang mengenal Jackson sebagai pria tua tak berguna dengan koper usang serta kacamata rusak.

Bahkan saat mencoba menyanyikan lagu sendiri, tak satu pun percaya bahwa dia adalah Jackson karena suara serta permainan gitarnya berubah.

jackson c. frank

Meski tidak pernah mencapai ketenaran selama hidupnya, Jackson dihormati dan didaulat sebagai salah satu solois folk berpengaruh sepanjang masa.

Hal itu dibuktikan dengan banyaknya musisi dunia yang membawakan ulang dan mempopulerkan kembali sederet lagu Jackson. Mereka percaya, Jackson adalah entitas dari sesedih-sedihnya musik folk.

Diolah dari Berbagai Sumber

Foto: Net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here