Menyambut Mournful, Post-punk Muram dari Lubuk Hati Terdalam

0
38
mournful

Saya ingin membuka tulisan ini dengan kata bijak Heraclitus rujukan Rizki Firmansyah alias Nyek, penabuh drum Mournful. “The only thing that is constant is change,” katanya. Perubahan kerap menyebalkan, namun tiga orang ini punya pendapat berbeda…

Sekira 2019, Nyek pernah tiba-tiba meminta referensi genre post-punk. Pikir saya ada dua kemungkinan. Pertama keperluan musik, kedua hal lain tak tahu apa.

Buat ukuran mimik muka seserius itu, jawaban pertama benar saja terucap. Prospeknya semakin terang, apalagi ketika dua nama lain yang disebutkan terdengar potensial.

Mereka adalah Mirza Pahlevi Wardhana (gitar, vokal) dan Gemma Buana Utama Putra alias Gembul (bas). Singkat cerita, saya tak mendengar kabar lanjutan selain jadwal manggung mereka dengan nama Mournful di Collect Records, 24 Oktober 2019 silam.

Sempat ada seorang sahabat yang bertanya pada saya tentang latar belakang trio tersebut.

“Kang, Mournful teh band keluarga? Katanya si vokalis-gitaris itu masih kecil, keponakannya? Terus bassist sama drummer teh om-nya, gitu? Drummer-nya udah punya anak, kang?”

Tentu saja itu keliru. Demi menjawab rasa penasaran, saya inisiatif bertanya pada ketiganya. Wawancara dilakukan via WhatsApp, 27 April 2020, mengingat wabah Corona masih berkeliaran di luar sana.

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, Sekarang Mournful Dulu

mournful
Ki-ka: Gemma, Nyek, Mirza

Inisiatif membuat grup musik, lahir dari agenda pertemuan di kala senggang. Namun sebagai seorang frontman, Mirza punya jawaban yang lebih lugas.

“Dulu emang ngulik banget post-punk, pengen bikin band ‘beneran’ tapi bingung ngajak siapa karena enggak mau bikin post-punk seperti Motorama atau post-punk Eropa Timur gitu. Terus akhirnya kenal Gemma,” kata Mirza.

Lebih lanjut, Mirza bercerita bahwa ia tahu Gemma sejak sang pembetot bas berkiprah di Curly Sound. Konon kata Mirza, aura post-punk band tersebut sangat gelap sampai ke tulang-tulang. Informasi terkini, Gemma sudah keluar dari Curly Sound.

“Singkatnya (Gemma) mau, terus ngajak si Nyek karena kebetulan lagi ada orangnya dan sebagai ex-Gladiator,” Mirza menambahkan. Ah, Gladiator… Lama tak dengar kabarnya.

Bagi penggemar Gang of Four, Talking Heads, Wire, Bauhaus, The Cure, dan veteran sejenis lainnya, Mournful hadir membawa ghirah dari nama-nama tersebut. Sebuah rujukan lokal terkini untuk kalian semua.

Seiring proses peramuan musik, referensi lain seperti Bodega, Crack Cloud, sampai Brian Eno yang lagi ngaco bawain krautrock juga turut tercantum. Ditambah pula oleh Gemma yang saat itu tengah menikmati U2 era album awal.

Namun, apalah arti genre musik jika hidup terus berjalan dengan evolusi dan segala kebaruannya? Di sinilah perubahan haram untuk dihindari.

“Post-punk bisa jadi definisi yang pas untuk musik Mournful hari ini, tapi kalau boleh jujur saya secara personal tidak mau terjebak di satu jenis saja. Takutnya malah jadi beban yang membosankan, ha ha ha,” tutur Nyek.

Setelah meminta penjelasan seputar latar belakang, awal mula, hingga genre, bisa dilihat bahwa ketiga orang tersebut bukanlah keluarga satu darah. Mereka bahkan muncul dari kehidupan hingga arah domisili yang berbeda.

Rasanya tak cukup jika memahami band secara garis besar. Tabiat warga negara berkembang adalah menyelami lebih dalam sampai kita tahu kenapa bisa ada Mournful. Ya, penjelasan umum ke khusus. Mari kita tuntaskan semuanya.

Mournful: Carpe Diem, Quam Minimum Credula Postero

“Petiklah hari dan percayalah sedikit mungkin akan hari esok,” begitulah arti frasa latin di atas. Setiap orang punya masalah, sama halnya dengan tiga orang dalam Mournful.

Alasan-alasan personal yang jujur dan lugu dalam bermusik, biasanya lebih menarik ketimbang hal klise seperti berkarya atas nama seni. Tak ada alasan stagnan, lebih baik ambil gitar dan mulai memainkan lagu lama yang biasa kita nyanyikan sesuai anjuran Slank.

“Kalau saya pribadi sih karena Soft Blood lagi angin-anginan dan pengin bikin band yang agak ‘gelap’, soalnya semua band saya, kalau enggak indie pop, ya itu… Mac Demarco tea,” ujar Mirza, saat ditanya alasan personal terkait keberadaan Mournful.

Soft Blood adalah unit jangle-pop sejak pertengahan 2015, bisa jadi lebih lama jika dihitung sebagai reinkarnasi Sadford Lads Club (2012-2015). Dua personelnya, Rizal Taufik dan Surya Fikri Ashiddiq, kini lebih dikenal sebagai anggota kuartet surf rock The Panturas.

Jarak dan kesibukan kerja konon bikin aktivitas Soft Blood berkurang sejak showcase EP Labyrinth EP pada 2018 lalu. Ditambah demand yang lebih besar untuk The Panturas, Mirza merasa Soft Blood jadi nomor dua.

“Enggak tahu ya, tapi saya mikirnya gitu sih. Agak sedih juga kemaren-kemaren sempet Instagram Soft Blood banyak banget yang follow dan nge-post dengerin lagunya gara-gara di-share sama The Panturas di Twitter. Sampai ada beberapa yang ngomong, ‘Wah, keren juga nih band side project-nya Kuya (Surya) sama Ijal!”

Kendati demikian, itu tak bikin Mirza meratapi keadaan dalam kerumunan Anak Buah Kapal (ABK). Dia mengaku selalu mendukung The Panturas sejak hari pertama. Pertemanan kental sejak kecil pun, tampak masih terjalin dengan baik…

Setidaknya diiringi ucapan “Fuck The Panturas for making me sad and proud at the same time!” darinya. Begitu muram, mungkin inilah siratan murni post-punk dari lubuk hati terdalam.

***

Tak hanya Mirza, Mournful mengandung pengalaman personal dari individu lainnya. Sebagai contoh, seorang teman di skena menyebut bahwa sosok Gemma sangat identik dengan post-punk—jauh sebelum genre ini diminati warga lokal setempat.

“Kalau kata Simon and Grafunkel mah, ‘Hello darkness my old friend’. Post-punk teh musik yang keren dan gampang untuk memainkannya,” ujar Gemma.

“Dari kecil udah dicekokin The Police, Depeche Mode, dan The Cure album Wish secara enggak langsung sama nyokap. Nah, kayaknya itu yang bikin musik post-punk nempel di otak dan hati tanpa sadar, hahaha,” melanjutkan omongan.

Saya berasumsi bahwa omongan Gemma di atas tak hanya sekadar ucapan, tapi juga perlengkapan. Ya, pedal miliknya terhitung banyak buat ukuran pemain bas.

“Sedikit sebenarnya, cuma delay, chorus, shimmer, phaser, fuzz, dan wah. Tapi mungkin kalau pemain bass ‘kan jarang explore sound, rata-rata yang penting tight, fat, dan bisa slap,” ucap dia.

Lebih lanjut, Gemma menjelaskan bahwa Mournful adalah band dengan personel yang irit, yakni bertiga. Berangkat dari Mirza sebagai gitaris dengan porsi yang cenderung dominan di vokal, otomatis Gemma mesti mengatur siasat untuk mengisi sejumlah kekosongan.

Nah, PR-nya ‘kan sisa di saya, bagaimana caranya musik Mournful tuh rhythm section-nya ada dan mampu mengisi fill-in lagu. Berhubung skill saya secara teknik enggak kaya Barry Likumahuwa, muncullah ide set pedalboard tersebut,” katanya.

***

Jika dibandingkan dengan personal lain, bisa jadi sosok terakhir yang satu ini lebih santai dan tampak benar-benar memetik harinya.

“Kalau saya sih motivasinya cuma untuk sekadar mengisi waktu luang,” kata Nyek. Sebagai informasi, dia juga menjabat posisi drum untuk grup musik KAITZR.

Perbincangan yang ngalor ngidul, kata Nyek, mencetuskan ide untuk bikin sebuah band. Dia juga memberi rujukan nama lain dalam referensi musik.

“Manic Street Preachers dan Pink Floyd. Dian Sastro juga termasuk, hehe.”

Pernyataan Mirza, Gembul, dan Nyek barusan, bikin saya paham kalau Mournful tidak berawal dari sesuatu yang biasa saja. Setelah cukup paham perkara memetik hari, kini kita kembali membahas tema musik, rencana, dan sebagainya.

Mournful dan Kenyataan Absolut yang Terlewat Gelap

mournful
Foto Burung Hantu Pendeta atau Celepuk Sulawesi (Otus Manadensis) ini, diambil oleh Siti Rochayatun, ibunda Gemma, saat melangsungkan perjalanan ke Gunung Tangkoko, Batuangus, Sulawesi Utara.

“What if every little thing that people thought of you

Instead of being tucked away, was heard, was listened to?

Would you be ashamed? Would you cover your ears?

Would you rather be deaf than let the truth come near?”

Kutipan di atas adalah lirik single “Muted Truths” milik Mournful. Jika dibaca utuh, untaian kalimatnya bikin saya berpikir ulang tentang makna kebenaran absolut.

Betulkah ia hanya sebatas gravitasi dan hukum alam lainnya? Bagaimana dengan kenyataan lain yang terlewat gelap? Atau pahitnya, apakah hal yang selama ini mutlak fakta?

Berdasarkan penjelasan Mirza dalam rilis pers sebaran Orange Cliff Records, “Muted Truths” menceritakan seseorang yang telah mencapai fase saat harus dihadapkan dengan banyak perasaan, kebohongan, rahasia, hingga akhirnya muncul banyak pertanyaan dalam isi kepala.

Dengarkan di sini:

Selain laman profil band, kiprah Mournful bisa dilihat pada playlist “Cadas Bergema”yang berlatar gambar Endank Soekamti. “Muted Truths” terpampang di sana bersama lagu populer Indonesia lainnya.

Mournful juga menyimpan sekitar lima sampai enam lagu yang belum diolah secara matang. Satu tentang konsumerisme, sisanya belum jelas.

“Agak diverse sih, belum ada patokan tema tertentu. Mungkin bisa juga nanti nulis lirik soal peradaban,” ujarnya.

Bicara soal panggung, Mournful baru sekali tampil, yakni di Collect Records sesuai penjelasan sebelumnya. Belajar dari sana, ada beberapa hal menurut Nyek yang harus diperbaiki.

“Tidak buruk, walaupun penampilan live kami masih banyak yang harus diperbaiki. Semua personel Mournful ini penyakitnya sama, suka mendadak pikun untuk urusan menghapal lagu, ha ha ha,” tutur dia.

Instagram.com/mournfulrituals

***

Bagi kalian yang berharap aksi panggung Mournful dalam waktu dekat, kubur mimpi itu dalam-dalam karena wabah virus corona. Di sela kesibukan masing-masing personel, jadwal pengolahan materi juga harus ditunda akibat kendala serupa.

“Rekaman sih yang jadi agak terhambat. Rencananya bulan Maret atau April 2020 ini rekaman lagi,” ujar Mirza.

Soal jamming online seperti musisi lainnya, Mirza mengaku bahwa lagu-lagu Mournful susah untuk dibuat versi akustik/stripped-down.

“Tapi lagi on-progress sesuatu juga, soalnya drummer hebat kami baru beli alat baru.”

Tak ada yang ditargetkan dari Mournful seputar musik. Diwakili Mirza, ia ingin keadaan dapat mengalir begitu saja. Nyek mengamini hal tersebut, meski dia juga paham tentang pentingnya merancang sebuah rencana.

Guna menutup obrolan, saya juga bertanya seputar kondisi permusikan saat ini pada Nyek. Sebuah pertanyaan yang juga menjadi cerminan atas kesiapan Mournful di ranah publik dengan skala lebih luas di masa depan.

“Kancah musik Indonesia hari ini menjadi menarik untuk disimak karena bergerak semakin dinamis. Hal itu terjadi berkat berbagai macam diskursus yang terjadi di dalamnya. Kemajuan teknologi punya peran penting dalam perkembangan tersebut,” tuturnya.

Baca Juga:

Jackson C Frank dan Sesedih-sedihnya Musik Folk

It’s just another Tuesday, motherfucker!” Kata Samuel L. Jackson pada Leonardi DiCaprio, di sela syuting Django Unchained (2012), melansir Cheatsheet.com. Saat itu, Samuel kesal karena Leo tak sanggup mengumpat secara rasial padanya demi keperluan akting.

Selayang pandang, ungkapan tersebut bermakna bahwa segila apapun kehidupan, kelak ia akan melalu begitu saja seperti hembusan angin. Berangkat dari sana, ditambah obrolan dengan Mirza, Gemma, serta Nyek, saya belajar untuk siap dalam menghadapi segala hal.

Seperti itulah perbincangan panjang kami. Selagi berusaha memetik hari, mari kita nantikan materi selanjutnya dari Mournful, trio post-punk yang tak terikat satu darah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here