Queercore: Catatan Histori LGBT dalam Kancah Musik Keras

0
14
queercore

Queercore dianggap sebagai disonansi dari kalangan yang terpinggirkan, yakni LGBT. Upaya mereka dalam bersuara lewat musik keras, tak bisa disepelekan begitu saja.

Perdebatan LGBT disinyalir masih terjadi dengan panas sampai saat ini. Tak ada celah buat menarik napas sejenak; yang pro punya bukti konkret, yang kontra memiliki nilai serta landasan fundamental tertentu.

Kita sering luput dengan fakta bahwa WHO sudah menghapuskan LGBT sebagai penyakit mental sejak puluhan tahun lalu.

Kesalahpahaman terus terjadi, tak sedikit pula yang coba meluruskan. Dari sekian banyak pihak tersebut, queercore masuk dan ambil peran.

Queercore Membahana dalam Hentakan Distorsi

queercore
Queercorebook.com

Mungkin ada dari sebagian kita yang berpikir bahwa genre ini bernuansa disco, sedikit nakal dengan vokal meliuk ala Freddie Mercury dari Queen, serta diiringi beat yang menggoda.

Tapi toh, rata-rata genre yang dilabeli kosa kata ‘core’ nyatanya tampil secara lantang lewat deru tabuhan tegas dan distorsi yang meraung-raung.

Queercore sebetulnya tak jauh beda dengan hardcore-punk, hanya orang-orangnya saja yang mengusung ideologi tertentu. Jenis musik konon ini diisi oleh kaum LGBT atau mereka yang mendukung gerakan tersebut.

Pergerakan queercore mencuat di Amerika Serikat pada dekade ‘80-an, landasannya sama dan menjadi perintis atas perlawanan yang terjadi saat ini: melawan sistem serta diskriminasi terhadap para homofobia.

Ia lahir saat WHO masih mencatat kaum LGBT sebagai pengidap kelainan jiwa.

Besar di Toronto, mereka berbeda dengan komunitas lainnya bahkan ketika kita berbicara dalam ranah punk sendiri. Queercore dikenal sebagai kelompok yang bahkan lebih tertutup dari kawanan punk manapun, namun dikenal cerdas serta hadir dengan materi berlebih.

Soal penerbitan majalah, artikel, penggarapan film, rekaman musik, hingga pameran seni, kerap mereka lakukan demi mengusung kebebasan berekspresi.

Tercetusnya queercore, tak pelak berasal dari beberapa band hardcore Amerika yang sering membawakan lagu bertemakan cinta sesama jenis atau anti-homofobia, semisal nama-nama seperti The Dicks dan Big Boys.

Inggris juga mencatat sejarah tersebut, dengan Andy Martin dari The Apostles sebagai pionirnya. Hal ini menjadikan grup musik macam MDC atau 7 Seconds yang kemudian menciptakan lagu dengan tema sama, namun lebih politis dan kerap dengan sebuah pledoi.

Berangkat lewat jajaran nama di atas, kita juga tak boleh melupakan Fift Column. Band yang terbentuk di Toronto pada awal dekade 1980 ini terdiri atas G.B Jones, Caroline Azar dan Beverly Breckenridge. Sang pentolan, G.B. Jones, dikenal sebagai sesepuh queercore.

Mereka Terus Mengepakkan Sayap

queercore
Out.com

Pergerakan genre musik tersebut lantas bergerilya lewat jalur lain. Jones tak hanya berkutat di kancah musik, melainkan produk jurnalistik.

Jones, bersama Bruce LaBruce, menciptakan sebuah zine berjudul J.D.s. Terbitnya media alternatif tersebut, dianggap sebagai katalis yang mengukuhkan queercore sebagai percabangan dari punk/ hardcore.

Mulanya, para editor J.D.s. menggunakan nama Homocore yang lantas diubah menjadi Queercore Punk. Hal tersebut dilakukan demi merefleksikan totalitas perbedaan atas pandangan, serta gaya hidup stereotip gay dan lesbian pada umumnya.

QC banyak dipengaruhi musik-musik scene punk, namun melebar juga seiring berjalannya waktu. Ia mencakup genre lainnya seperti synthpunk, indie rock, power pop, new wave, noise, hingga experimental.

Sampai detik ini, mereka terus berurusan dengan isu-isu identitas seksual, hak-hak individu berdasarkan gender, serta kritik masyarakat terhadap endemik keberadaan kalangan LGBT.

Kritik tersebut disampaikan dengan cara ringan, meski terkadang serius; tergantung bagaimana masyarakat menyikapinya.

Masih banyak lagi nama-nama band yang bergerak untuk menyuarakan cinta sesama jenis seperti Team Dresch, God Is My Co-Pilot, Pansy Division, Kids on TV, Tribe 8, The Wanking Nuns, Gay for Johnny Depp, The Gossip, dan Limp Wrist yang legendaris.

Meski tak secara langsung, namun Straight Answer, unit legendaris asal Jakarta, kerap mengampanyekan anti-homofobia pada setiap aksi panggungnya.

Genre ini, beserta pergerakannya, sering dipandang kontroversial. Pihak yang menentang pun tak terhitung jumlahnya, meski tak mudah juga untuk digoyahkan.

Mengapa? Ya, hal ini terjadi karena queercore diisi oleh cendekia-cendekia dengan bekal wawasan tersendiri yang tak selemah haters belaka.

Pada pada aspek tertentu, genre musik tetaplah genre musik. Namun jangan salah, ada satu yang termaktub lewat queercore: aspirasi dan kejujuran dalam bersuara.

***

Diolah dari berbagai sumber

Foto: Net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here