Memburu Catatan Hunter S Thompson, Titik Api Jurnalisme Gonzo (VI-Habis)

0
68
hunter s thompson

Hunter telah membicarakan tentang kematian hampir di sepanjang hidupnya. Dengan kata lain dia selalu siap. Dia tahu bahwa kematian mengawasinya setiap saat. Tapi berserah diri bukan gayanya. Heroiknya: daripada menunggu dipanggil, dia memilih untuk datang menghadap atas inisiatifnya sendiri.

Oleh: Dokter Marto

Sandy mengatakan bahwa Hunter S Thompson telah berbicara tentang ‘menembak diri sendiri’ sepanjang hidupnya. Yang tersisa dari jiwanya adalah, seperti dikatakan Sandy, “Bukan lagi pribadi yang menyenangkan, dia adalah seorang pria yang kesakitan, pemarah dan tersiksa.”

Sewaktu Hunter S Thompson menginvestigasi kasus bunuh diri Ernest Hemingway, dia sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada kepuasan yang pernah membuat jiwa Hemingway merasa cukup. Selalu ada lubang yang bocor di jiwanya.

“Dia sudah tua, sakit, dan punya banyak masalah. Dan ilusinya tentang kedamaian dan kepuasan tidak pernah cukup – bahkan ketika teman-temannya datang dari Kuba untuk mengajaknya bermain adu banteng di Tram. Jadi akhirnya, dan untuk satu alasan terbaik, menurutnya, dia mengakhirinya dengan shotgun,” tulisnya.

Hunter sudah tua dan punya masalah dengan kesehatan tubuhnya. Dia tidak lagi prima, dan baginya tidak ada lagi perdamaian sejak gagal dalam pertarungan sherrif-nya. Jadi meski namanya sudah aman di papan sejarah dan mitos tentang kegilaannya membuat dia diabadikan sebagai legenda, itu tidak akan pernah cukup.

Dia harus mengakhiri penderitaan jiwanya. Dan minggu terakhir itu, sebelum mengumpulkan keluarganya di Owl Farm, adalah hari-hari yang paling berat baginya.

Dia menuliskan bagian terakhir cerita hidupnya; apa yang disebut sebagai Football Season Is Over – kalimat-kalimat pendek tentang ketersiksaan dan penghabisan. Mungkin dulu dia tidak pernah menyangka bisa hidup sepanjang ini. 

“No More Games. No More Bombs. No More Walking. No More Fun. No More Swimming. 67. That is 17 years past 50. 17 more than i needed or wanted. Boring. I am always bitchy. No Fun – for anybody. 67. Your are getting Greedy. Act your old age. Relax – this won’t hurt.”

Tubuh Hunter S Thompson yang Melemah

Tubuh Hunter S Thompson sudah tidak kuat menopang amarahnya lagi. Bagi seorang yang telah mengundang bahaya di sepanjang hidupnya – dipenuhi narkotika, minuman keras dan tidak pernah merasa takut, Hunter ingin sebuah pintu keluar yang cepat.

Dia adalah sepenuhnya seorang pengambil risiko. Itu tidak perlu diragukan, dan nyawanya sudah tidak sanggup dipertahankan lebih lama lagi.

Dan sore itu dua puluh Februari tiga belas tahun lalu Hunter menginginkan pembebasan. Dia masuk ke ruang kerjanya dan duduk di depan mesin tik, menunggu hadirnya sebuah kata terakhir. Sendirian. Pipa filter menyelip di bibirnya. Satu garis dan dia mengetik:‘Counselor’.

“Aku beritahu, kamu akan punya sikap yang berbeda kalau kamu berpikir kamu akan mati besok siang. Kamu mungkin tidak akan ada di sini melakukan ini. Aku membayangkan, ‘Bye, bye, Miss American Pie, good old boys drinking whiskey and rye, singing this’ll be the day that i die’. Ya, aku merasa sepenuhnya seperti itu.”

Sama seperti ketika dulu dilahirkan; ditembakkan dari rahim, Hunter S Thompson juga pergi dengan cara yang sama. Dia memilih sebutir peluru. Anita sedang tidak berada di rumah. Mereka sempat berbincang sebentar lewat telepon ketika sebuah .45 Smith & Wesson dikokang… dan meledak.       

Beberapa menit kemudian, Juan menemukan kepala ayahnya tertunduk di atas kursi depan mesin tik. Peluru menembus ke belakang melalui rongga mulut. Pistolnya jatuh tidak jauh dari kaki kirinya.

Yang dilakukan Juan kemudian adalah membuat penghormatan, mengambil shotgun dan menembakkannya tiga kali ke langit sebagai tanda kematian yang gagah.

Tidak ada lagi Musim Sepakbola. Tidak ada lagi rasa sakit, marah dan ketersiksaan itu. Enam puluh tujuh tahun.

Hunter S Thompson telah terbebaskan.

Hunter yang Menjadi Abu

“Kalau kamu bertanya apakah dia pergi ke surga atau neraka, sudah pasti dia akan mendatangi keduanya, cari di mana Richard Nixon berada dan dia akan pergi ke sana,” kata Ralph Steadman.

Enam bulan kemudian upacara penyebaran abu dilakukan. Hunter tidak suka cara yang biasa – dia hidup dalam kemarahan, dia suka suara ledakan besar dan dia ingin tetap seperti itu.

Itulah rencananya sejak dulu, melebur bersama Monumen Gonzo Vision rancangannya di tahun 1978: sebuah meriam kepalan tangan setinggi 150 kaki dengan cengkeraman satu bunga peyote meledak ke langit malam Colorado bersama cahaya kembang api merah, putih, biru, hijau.

Itu Hunter S Thompson.

Dia pergi dengan “Mr. Tambourine Man” mengiringinya, sesuai keinginan. Johnny Depp – sahabat Hunter dan juga aktor yang memerankan dirinya di adaptasi film Fear and Loathing In Las Vegas – yang membiayai kehebohan itu.

Paul Scanlon mengenangnya. “Hunter yang selalu kukenal adalah, di awal tujuh puluhan, akan datang ke kantor dengan tas kulitnya dan dia akan menumpahkan seluruh isinya, membawa beberapa buah jeruk, satu pak Dunhills, lampu senter, sebotol Wild Turkey dan sekaleng Mace sebagai pengganti sapaan ‘halo’. Di lubuk hatinya dia hanya pemalu, dan seorang yang sopan. Dia adalah pria yang baik… paling tidak saat dia tidak mabuk.”

Setiap penulis bagus ikut memberi benih bagi penulis jelek, ingat itu. Hunter menulis karya yang indah – mutasi dari bentuk fiksi yang aneh dan unik; sebuah karakter, mesin imajinasi sekaligus pemberontak-pemabuk-pendobrak paling menawan dan bertalenta yang pernah lahir dalam dunia literasi Amerika.

Tidak ada yang bisa menirunya.

Kita pasti selalu tertangkap basah kalau terus mencoba melakukan itu.

Seperti yang dilakukan Hunter, camkan ini: carilah jalan kalian sendiri: ‘when the going gets weird, the weird turn pro’.

Inilah dia. Salah satu prototipe milik Tuhan. Seorang mutan tangguh yang tidak diperuntukkan bagi produksi massal. Terlalu aneh untuk hidup, terlalu langka untuk mati.”

H.S.T – 1972    

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here