Memburu Catatan Hunter S Thompson, Titik Api Jurnalisme Gonzo (Bag. V)

0
50
hunter s thompson

Hunter berhasil menginfiltrasi sebuah kebudayaan dengan cerita Vegas-nya. Dia membawa sepuluh tahun di dekade 60an ke dalamnya dengan begitu terbuka – bukan saja mencapai aspek-aspek sosial-politik tapi juga keseluruhan, dari Muhammad Ali, White Rabbit, masalah ras dan para polisi korup. Semuanya dituturkan dengan kegilaan komikal.

Oleh: Dokter Marto

Itulah Jurnalisme Gonzo, seperti yang dia tulis dan yakinkan dalam bab awal Fear and Loathing In Las Vegas, “Hiburan Bebas. Mimpi Amerika. Horatio Alger menjadi gila dalam pengaruh obat-obatan di Las Vegas. Lakukan sekarang: jurnalisme Gonzo murni.”

Sejak itu, namanya resmi dinobatkan sebagai pahlawan literatur narkotika yang menerobos batas. Orang-orang mulai mengiriminya surat penggemar dengan menyelipkan lintingan-lintingan ganja dan pil. Seketika dia menjadi selebritis dengan persona Raoul Duke yang selalu melekat.

Sekali waktu juga Hunter S Thompson pernah menjelaskan dirinya sebagai, ‘seorang pemalas – pemabuk udik dengan hati penuh kebencian yang telah menemukan jalannya sendiri untuk hidup dalam tiupan angin alam; tukang begadang, tukang senang-senang, liar, minum wiski dan menyetir dalam kecepatan tinggi di jalan yang kosong tanpa memikirkan apa-apa kecuali jatuh cinta dan jangan sampai tertangkap’.

Hunter S Thompson tidak bisa berhenti. Segera setelah semua tentang Vegas selesai, Rolling Stone kembali mengirimnya untuk meliput kampanye presiden Partai Demokrat di tahun 1972. Rolling Stone mengontraknya selama masa kampanye, dan untuk dua belas bulan Hunter berpergian dari Miami ke Michigan ke Washington untuk mengikuti setiap detil dari kampanye tersebut

Dia menjadikan kumpulan artikelnya itu sebagai buku dengan judul Fear and Loathing: On The Campaign Trail ’72.   

Senator George McGovern, kandidat Partai Demokrat yang menjadi tokoh sentral dalam buku itu memberi pendapatnya tentang Hunter.

“Dia sangat tanggap. Itu adalah potret yang akurat dari karakterku. Dia melihat dengan jelas dari sudut pandang manusia. Dia tidak bisa menghindarinya. Hunter adalah seorang patriot. Tapi dia melakukannya secara universal….

Dia membenci perang di Vietnam dengan sepenuh hatinya. Dan dia benci hipokrasi dalam kemapanan. Pada dasarnya, aku pikir dia ingin melihat negara ini berkembang seperti keinginannya. Dan dia ingin kita menjadi lebih baik. Tidak perlu diragukan lagi kalau yang dia tulis di tahun 1972 adalah buku yang sangat berharga tentang kampanye itu.”

Pria Botak Kurus dan Selinting Mariyuana

Aktivis Keith Stroup dari NORML yang di tahun 1972 tengah mencari dukungan politikus untuk memuluskan program legalisasi ganja bertemu dengan Hunter di tengah hiruk pikuk Konvensi Partai Demokrat itu di Miami.

“Saat itu adalah hari pembukaan konvensi,” kata Keith, “aku sedang berdiri di lapangan mendengarkan sebuah pidato ketika tiba-tiba dari arah bawah tercium bau mariyuana.”

Dia langsung melongok ke bawah dan melihat seorang pria botak – tinggi – kurus sedang mengisap selinting gendut mariyuana. “Dia mencoba bersembunyi di kegelapan tapi itu tampaknya sulit di sebuah konvensi politik,” katanya. “Jadi aku coba mendekatinya, dan ternyata itu Hunter S. Thompson.”

Persetan dengan ceramah politik itu, pikir Keith, yang lalu menyapanya dengan sesopan mungkin.

“Sialan! Siapa kamu?” Hunter kaget sambil terbatuk terpatil lintingannya.

“Hey, Hunter, tenang. Saya Keith Stroup dari Organisasi Nasional Reformasi Hukum Mariyuana. Kita sedang mencoba melobi orang-orang ini.”

“Oh. Oh, yeah! Yeah! Nih,” Hunter menyodorkan tangan kirinya, “Mau?”

Mereka sempat berbincang sebelum Hunter mengeluarkan selinting lagi dan pergi untuk melakukan pekerjaannya.

“Aku selalu suka mariyuana. Itu adalah sumber kegembiraan dan kenyamanan untukku selama bertahun-tahun. Dan aku masih berpikir kalau ini adalah dasar dari sebuah kehidupan, bersama bir dan es batu dan buah jeruk – dan jutaan orang Amerika setuju denganku,” katanya.

Mengaku sebagai ‘political junkie’, di peliputan itu Hunter merubah kebiasaan wartawan politik Amerika masa itu yang cenderung bergantung dengan wartawan lainnya untuk mendapatkan berita. Mereka, wartawan-wartawan itu saling bahu membahu. Hunter, dia tidak suka berada di kerumunan. Dia punya jalannya sendiri, dengan gayanya sendiri. Dia tidak suka mengikuti kebiasaan jurnalisme yang lemah macam itu.

Hunter S Thompson menerkam berita langsung dari congornya, dan menceritakan secara metaforik. Dia adalah wartawan politik terbaik abad ini, kalau kalian ingin merubah definisi jurnalisme, karena hanya sedikit orang yang bisa memahami dunia dan orang-orang di dalamnya.

“Dengan kebenaran yang sangat buram dan menyedihkan, satu-satunya cara alternatif untuk bekerja adalah dengan meledakkan keliaran dari kegilaan dan pikiran,” tulis Hunter.

Tommy Robinson dari Boston Globe yang juga ikut meliput di kampanye itu mengatakan kalau konvensi tahun tujuh puluh dua itu benar-benar dijaga ketat.

Setiap orang diberi tanda pengenal yang harus selalu digantungkan di lehernya. Penjaga akan memeriksa setiap inci tubuh orang-orang yang akan masuk, “tempat itu dikelilingi oleh pagar besar dan jika kamu melangkah ke dalamnya, itu seperti memasuki kawasan perang,” ungkapnya.

“Jadi,” kata Robinson, “suatu hari aku sedang berdiri di antrian itu, dan aku lihat Hunter berada di sebelah kiri ikut mengantri. Kami semua mengalungkan tanda pengenal itu. Hunter berdiri di sana dengan tangan kiri memegangi jaket untuk menutupi bahunya.

Penjaga itu memeriksa semua yang tergantung di lehernya, termasuk teropong dan kamera, dan aku kira hingga ke lensanya juga. Hunter berdiri di sana diam dan tenang. Dan beberapa saat kemudian, aku masuk ke dalam dan berdiri di barisan tempat duduk yang agak gelap di mana Hunter sedang meminum sekaleng bir dingin. Aku mendatanginya.”

“Sial, Hunter, dari mana kamu dapat bir itu?”

“Oh, ini aku punya lagi di jaket. Mau?”

Melalui Campaign Trail juga Hunter memastikan seteru politiknya. Adalah Richard Nixon, Presiden ketigapuluh tujuh Amerika Serikat yang selalu menjadi bulan-bulanannya setiap saat. Hunter membenci Nixon seperti Stalin membenci Hitler. Baginya Nixon merupakan penyebab kegagalan dari Mimpi Amerika versinya.

Hunter S Thompson & “Bajingan” Nixon

Nixon adalah ciptaan yang gagal, seorang tanpa jiwa dengan ketulusan hati seekor hyena terhadap rusa, mangsanya, dan gaya menipu kodok beracun, katanya. Juga dia membenci sikap konservatif orang-orang Republikan. Ketika Nixon wafat di tahun 1994, Hunter menyebutnya ‘bajingan’ dalam sebuah obituari berjudul He Was a Crook yang ditulisnya untuk Rolling Stone.

“Jika orang-orang baik diberi kuasa untuk mengurusi pemakaman Nixon, peti jenazahnya akan diluncurkan melalui salah satu saluran pembuangan kotoran menuju lautan selatan Los Angeles. Dia adalah seorang manusia babi dan presiden tukang tipu. Nixon sangat bajingan sehingga dia membutuhkan seorang pelayan untuk membantunya membersihkan celana dalamnya setiap pagi. Bahkan pemakamannya melanggar hukum. Tubuhnya seharusnya dibakar di tempat sampah,” tulis Hunter.

Ironisnya setelah buku itu, semua menjadi sulit bagi Hunter S Thompson. Perilakunya semakin tidak bisa diterka. Tidak ada lagi karyanya yang menggugah.

Hunter S Thompson menghabiskan waktunya dengan menikmati mitos sebagai penulis narkotika paling gila, dan tidak pernah menepati deadline.

Dia mengalami krisis diri.

***

Tahun 1974, Rolling Stone mengirimnya ke Zaire untuk meliput pertandingan akbar Muhammad Ali dengan George Foreman, tapi Hunter menjual tiketnya dan menghabiskan waktunya untuk berenang seharian di hotel dengan sekantung mariyuana dan sebotol Glennfiddich, lalu pulang dengan tangan kosong.

Dia juga ditugaskan pergi ke Vietnam dan mendarat di sana tepat ketika kota Saigon jatuh, tapi lagi-lagi dia pulang tanpa menuliskan cerita apapun, yang menyebabkan hubungannya dengan Rolling Stone memburuk. Menulis menjadi sulit baginya. Narkotika dan ekses selebriti begitu menguasainya.

Karya berikutnya hanyalah kumpulan-kumpulan artikel yang dibukukan dalam empat serial Gonzo Papers: The Great Shark Hunt, Generation of Swine, Songs of the Doomed dan Better Than Sex.

Kemudian ada film tentangnya yang dimainkan oleh Bill Murray berjudul Where The Buffallo Roam.

Hampir dua puluh tahun berikutnya, giliran Johnny Depp yang memerankan Hunter S Thompson sebagai Raoul Duke di Fear and Loathing In Las Vegas. Lalu The Rum Diary setelah dia wafat.   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here