Memburu Catatan Hunter S Thompson, Titik Api Jurnalisme Gonzo (Bag. IV)

0
58
hunter s thompson

“Jurnalisme Gonzo adalah gaya laporan yang didasarkan dari gagasan William Faulkner bahwa fiksi yang baik jauh lebih nyata dibanding semua jenis jurnalisme ….Fear and Loathing in Las Vegas adalah percobaan gagal dalam Jurnalisme Gonzo. Ide saya adalah membeli buku catatan yang sangat besar dan rekam semua hal, seketika itu terjadi, lalu kirim dalam buku catatan untuk diterbitkan – tanpa di-edit,” tulis Hunter S Thompson pada sampul jaket Fear and Loathing in Las Vegas.

Oleh: dr. Marto

Pada sebuah dini hari – hampir subuh telepon berdering dari rumah Warren Hickle di San Francisco. Medio 1970. Suara itu tidak salah lagi; berat, juga bersemangat, berbicara dengan cepat seperti orang berkumur-kumur dengan batu kristal, Hunter S. Thompson.

“Sialan, Scanlan’s harus meliput Derby. Itu penting,” katanya.

Malam itu, hanya dua hari sebelum balapannya dimulai, Hickle, editor Scanlan’s – bulanan subversif yang dicekal pada 1971 – langsung menyetujuinya. Hunter S Thompson, pahlawan kontra kultur yang baru saja gagal jadi sherrif, meliput adegan balapan kuda legendaris The Kentucky Derby dari balik botol bourbon dan mengambil perspektifnya dalam malapetaka dekadensi budaya alkoholik kampung halamannya, apa lagi yang lebih baik?

Menolak didampingi fotografer, Hunter malah meminta Hickle untuk memberinya seorang ilustrator untuk ceritanya nanti. Hickle setuju dan mengutus Ralph Steadman langsung dari Inggris untuk menemaninya.

“Saat dia menulis artikel Kentucky Derby untuk Scanlan’s, obat-obatan, alkohol dan semua itu menjadi semakin berpengaruh terhadap kehidupannya. Ini bukan lagi Hunter yang duduk dan menulis ulang sebuah artikel tiga kali. Dia mungkin bisa menulis satu halaman, atau satu paragraf yang sangat rapi dan liar, lalu omong kosong. Dia tidak bisa menulis artikel yang lengkap,” kata Sandy.

Tenggat waktu datang, Hunter S Thompson belum punya satu pun cerita berurutan, melainkan tumpukan catatan kaki dan suara-suara dalam alat perekam. Semuanya berantakan. Hickle menerbangkannya ke Manhattan, New York dan menguncinya di sebuah kamar hotel selama lima hari. Scanlan’s terus menyuplainya dengan rokok, Heineken dan Chivas agar dia mampu menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.

“Setelah hanya bisa menulis tidak lebih dari dua halaman dalam tiga hari, perasaan gelisah dan depresi itu meningkat, dan itu menguncimu. Mereka mengirim orang-orang setiap jam untuk melihat apa yang sudah aku kerjakan, dan tekanannya perlahan meningkat seperti tiupan peluit anjing. Kamu tidak bisa mendengar suaranya tapi itu terasa di sekitar ruangan,” kata Hunter.

Akhirnya dia mulai merobeki halaman buku catatannya, memberi nomor pada setiap lembarnya, dan mengirimkannya begitu saja ke Scanlan’s. “Saat ini diterbitkan nanti aku pasti akan dipukuli habis-habisan oleh orang banyak,” akunya.

Tapi yang terjadi kemudian adalah gaya baru jurnalisme: Gonzo, dengan Hunter sebagai tokoh utamanya bersama Ralph Steadman yang melaporkan – mereka melupakan kuda-kuda balapnya – perilaku minum-minum dan pesta rakyat bar-bar yang terjadi di acara itu.

Hunter menuliskan dengan cara bertutur sebuah novel yang mengaburkan batasan antara khayalan dan kenyataan. Jurnalisme sastrawi, seperti yang dilakukan oleh Truman Capote atau Walt Whitman.    

Ketika artikel itu diterbitkan orang-orang menyebutnya terobosan baru. Publik terpesona. Hunter memberi sudut pandang yang berbeda dari sebuah lintasan balap dengan karikatur-karikatur Steadman yang memperlihatkan kebusukan moral masyarakat sosial di Kentucky.

“Dia selalu melawan mayoritas dan mendukung minoritas, dan artikel ini bercerita tentang orang-orang yang sangat dibencinya di Louisville – tatanan yang telah menolaknya puluhan tahun lalu. Dia kembali untuk membalas dendam. Mereka berkata bahwa dia takkan pernah jadi apa-apa, termasuk penulis,” kata Steadman.

“Dan aku berpikir, ‘Sial, kalau aku bisa terus menulis seperti ini, kenapa harus terus mencoba menulis seperti New York Times?’ Ini seperti jatuh dari gerbong elevator dan mendarat di kolam penuh putri duyung,” kata Hunter.

***

Persona Gonzo Hunter S Thompson telah terbentuk. Seorang misantropik. Kemudian dia ditugaskan oleh Rolling Stone untuk meliput kematian Ruben Salazar, seorang kolumnis Los Angeles Times yang tewas tertembus gas air mata di kepalanya.

Hunter S Thompson lalu membungkusnya dalam sebuah laporan yang licin berjudul Strange Rumblings In Aztlan di mana dia bertemu dengan sahabatnya, Oscar Zeta Acosta, aktivis-pengacara-penulis Mexican-American, dan menyelidiki kasus itu berdua. Tentu saja dalam keadaan penuh obat bius dan minuman keras yang membuat mereka… paranoid.

Di tengah penugasan, Acosta – yang disebutkan Hunter sebagai seorang pengacara dan penasehat dengan kekuasaan penuh tapi kecanduan amfetamin dan hobi mengunyah LSD – merasa dia dikuntit oleh sejumlah pihak karena tindak tanduknya bersama Hunter selama kasus Salazar.

Hunter S Thompson memang menjadikan Acosta sebagai narasumber utama dalam penyelidikan yang juga melibatkan masalah-masalah rasial itu. Pada kenyataannya ketakutan Acosta terbukti, di tahun 1974 dia hilang tanpa jejak hingga sekarang.

Mereka berdua lalu melarikan diri ke Las Vegas demi meredakan ketegangan dan mengejar Mimpi Amerika dengan memanfaatkan tawaran dari majalah Sport Illustrated untuk meliput sebuah balapan motor Mint 400.

Itu adalah perjalanan sureal – terjangkit paranoid dan halusinasi yang diwujudkan Hunter dalam sebuah gonzo murni bernama Fear and Loathing In Las Vegas: A Savage Journey to the Heart of the American Dream. Cerita itu akhirnya muncul di Rolling Stone dalam dua bagian setelah Sport Illustrated menolak dengan keras artikel tersebut.

Dari sebuah peliputan balap motor yang kemudian dilanjutkan dengan menghadiri Konvensi Narkotika Negara Bagian, Hunter dan Acosta – yang disebutkan sebagai Dr. Gonzo – membeberkan tentang kebusukan, kepalsuan dan kehancuran, mimpi buruk sebuah generasi yang kacau dari mata dua orang yang terpelintir obat bius.

“Laporan Gonzo membutuhkan talenta seorang ahli jurnalistik, mata seorang seniman – fotografer dan nyali besar seorang aktor. Media cetak Amerika belum siap untuk hal ini. Rolling Stone mungkin satu-satunya majalah di Amerika di mana buku The Vegas ini bisa diterbitkan,” kata Hunter S Thompson.

Hunter S Thompson: Fear and Loathing

Bukunya sendiri terbit di tahun 1972 dan langsung dianggap sebagai karya literatur paling penting dalam dunia obat bius. Fear and Loathing menjadi puncak kejayaan Hunter di mana kecerdasan sinisme serta humor gelap melebur jadi satu. Dia menulis fantasi-fantasi paling mengerikan dan liar dari menenggak obat-obatan terlarang.

Saat itu LSD sedang naik daun akibat kaum hippie, pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh kebanyakan media ketika membahas zat kimia itu adalah dengan gaya spiritual, seperti halnya Timothy Leary, tapi bagi Hunter, S Thompson spiritual adalah bualan romantisme belaka, baginya LSD menyatakan sebuah serangan kemarahan bersama kegelisahan juga ketakutan diri yang menciptakan halusinasi neraka dalam otak.

Dia menciptakan alter ego Raoul Duke untuk dirinya dan menulis tentang kelelawar di kap mobil, ular piton di sudut jalan, kadal, buaya, ikan pari, dan tercabik-tercabik di tengah para babi yang sedang main judi di kasino.

“Halusinasi itu cukup buruk. Tapi setelah beberapa saat kamu akan belajar mengatasinya dengan melihat nenekmu yang sudah mati sedang merayapi kakimu dengan pisau di giginya. Kebanyakan penggemar acid mampu mengatasi hal-hal seperti ini….

Tapi tidak ada yang bisa mengatasi kemungkinan seperti seorang aneh dengan $1.98 dapat masuk ke dalam Circus Circus dan tiba-tiba muncul sebanyak dua belas kali di langit tengah kota Las Vegas dengan ukuran Tuhan, menggonggongkan semua hal yang muncul di pikirannya. Tidak, ini bukan kota yang tepat untuk obat-obatan psikadelia. Kenyataannya sendiri sudah membelit,” tulisnya.

Hunter menulis Fear and Loathing In Las Vegas di ruang bawah tanah rumahnya. Itu adalah sebuah ruangan besar dengan perapian yang membuat seisi ruangan menjadi hangat. Dinding-dindingnya dilapisi oleh kayu berwarna merah dan lantainya juga dilapisi oleh permadani indah berwarna merah. Untuk masuk kesana kita akan melalui sebuah lorong menuju pintu dengan hiasan tumpukan kayu bakar. Ruangan yang elegan, sebuah tempat persembunyian – goa yang sangat cantik untuk Hunter.

“Dia akan menyalakan api dan kita sering bercinta di sana sambil minum anggur di atas karpet,” kata Sandy.

Temannya menulis adalah Dexedrine dan bourbon dan J.J. Cale. Biasanya setelah sarapan sore dia akan turun ke ruangan itu, menenteng beberapa kaleng bir bersamanya. Dia akan berada di sana minimal selama enam jam sebelum beristirahat – menulis dalam atmosfer sensual perapian yang hangat dengan alkohol, musik jazz dan asap rokok.

Itu cukup kontras dengan Fear and Loathing In Las Vegas yang penuh histeria dan paranoid kelas berat.

***

Seolah seperti kalimat-kalimatnya mengalir begitu saja, tumpah dari otaknya tanpa banyak dipikirkan. Buku itu dikerjakan selama kurang lebih dua minggu di paruh akhir 1971, terbit di Rolling Stone, dan ditransformasikan menjadi sebuah buku pada 1972.

Cerita tersebut merupakan ekses berlebihan sekaligus jenial dalam pelukan obat-obatan terlarang yang tidak umum. Salah satu dari paragraf pembukanya yang paling terkenal adalah ketika membocorkan persediaan narkotikanya untuk perjalanan itu;

“Kami punya dua kantung ganja, tujuh puluh lima pil mescaline, lima kertas acid, setengah botol garam berisi kokain, dan seluruh galaksi berwarna-warni; downers, screamers, laughers dan juga sebotol tequila, sebotol rum, satu peti Budweiser, satu takaran ether mentah dan dua lusin amyls.”

Paul Scanlon, salah satu editor Rolling Stone yang membimbing Hunter S Thompson ketika itu ingat bagaimana reaksi yang terjadi sewaktu pertama kali diberi satu bundel kopian pertama cerita Vegas tersebut.

“Dia datang ke kantor dan membagi-bagikan dua belas halaman pertama kepada para editor, lalu pergi. Kita semua mulai membacanya dan kami tertawa terbahak-bahak saat kelelawar turun dari langit…

Itu adalah salah satu hal paling lucu yang pernah saya baca dan rasanya saya tidak pernah membaca yang seperti itu sebelumnya. Kita benar-benar terpukau, betapa bagus, lucu dan berbedanya cerita itu. Tak ada yang menyangkanya.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here